Arti Sebuah Perjalanan

Ketika kita masih balita mungkin rumah adalah segalanya. Namun ketika kita berjalan keluar ternyata ada hal yang lebih luas, lebih beragam, baik itu alamnya dan manusia didalamnya. Ketika kaki-kaki ini mulai kuat betapa kita kegirangan berlari sana-sini. Ketika kita mulai beranjak pada usia sekolah betapa senang nya kita bermain sepeda, bermain sepak bola dengan teman-teman seusia. Mencoba hal baru, bertemu dengan orang baru, mengalami kejadian-kejadian dan pengalaman dalam hidup menjadi memori baru yang senantiasa tersimpan dalam otak kita dan akhirnya menjadi sebuah kenangan yang akan selalu di ingat. Hal tersebut akan selalu berulang-ulang kita rasakan hingga jasad terbujur tak bernyawa.

Tapi tahukah kalian perjalanan kemana pun itu atau lebih kerennya sekarang disebut dengan istilah Traveling juga akan memperkaya memori baru akan setiap adegan dan pengalaman yang kita rasakan ketika kita melakukan perjalanan.  Tidak salah Imam Syafii misalnya mengatakan bahwa dengan merantau/melakukan perjalanan yang notabene jauh dari rumah dan meninggalkan keluarga, kau akan mendapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat atau pun kawan). Ya, hal tersebut saya rasakan sendiri merantau meninggalkan zona nyaman ke tempat yang baru dan belum pernah saya kenal sebelumnya. Disana kita mulai memperhatikan budaya dan kebiasaan setempat yang berlahan akan menambah wawasan. Mengenal banyak karakter orang berinteraksi dengan orang baru yang membuat kita semakin bersyukur betapa luasnya dunia ini.

Teringat sebuah pengalaman ketika kami dari Kota Ende ingin menuju Kelimutu. Setelah sampai di kaki Kelimutu hujan deras turun, kami berteduh di sebuah warung kecil tepat didepan Kantor Taman Nasional Kelimutu yang sore itu terlihat cukup sepi. Beberapa jam bertahan sambil duduk santai bermain kartu serta memesan kopi dan mie instan. Sembari menunggu hujan kami juga memikirkan mau menginap dimana, kebetulan dari Ende kami juga tidak membawa tenda atau pun sleeping bag. Tidak ada terlintas sedikitpun kami akan ditawari untuk menginap di kantor taman nasional tersebut. Berawal dari keberanian untuk berinteraksi dengan petugas disana sekedar ngobrol saja serta minta izin untuk menggunakan mushola dan sholat magrib disana. Disana kami berkenalan dengan Mas Danang salah satu petugas taman nasional yang baru setahun lebih di Kelimutu, asal dari Surabaya membuat kami sedikit banyak bisa ngobrol ngalor-ngidul, kebetulan kami berenam masih berstatus mahasiswa di Jogja. Mas Danang dan kawan-kawan menawari untuk nginap di taman nasional saja lantaran sudah mulai malam dan mendung, kabut dingin pun mulai menghampiri. Kebetulan sekali petugas banyak yang cuti natal dan tahun baru sehingga memungkinkan bagi kami untuk bisa numpang nginap malam itu. Mas Danang juga banyak bercerita tentang kebudayan disekitar danau Kelimutu, pantangan serta adat-istiadat disana termasuk juga biota serta keanekaragaman hayati disana.

Perjalanan saya di Flores sungguh luar biasa termasuk ketika kami dijamu oleh keluarga Pak Duking yang sangat begitu baik. Padahal kami cuman dapat No Hp beliau dari web blog seperti ini dan berkenalan dengan beliau ketika menginjakan kaki di pelabuhan nelayan Riuang Kabupaten Ngada. Beliau menjamu kami beberapa hari yang sangat mengesankan terutama akan kebaikan keluarga ini selama disana.

DSC07592

Perjalanan bukan hanya sekedar mengeluarkan sejumlah uang lalu jalan-jalan dan pulang. Tapi dengan perjalanan kita semakin kaya akan wawasan, budaya, pengalaman, teman dan lainnya. Bagi yang suka naik gunung mungkin orang lain ada yang bertanya ga bosan naik gunung “X” misalnya walaupun kamu udah mendakinya berkali-kali sudah sampai puncaknya berkali-kali. Jawabannya adalah setiap mendaki gunung kita akan dihadapkan pada situasi yang tidak persis sama setiap kesempatannya, ataupun interaksi yang sama dengan teman-teman pendakianmu. Tidak jarang setelah turun gunung kita menjadi lebih dekat dan kenal dengan teman-teman kita walaupun hanya baru berkenalan satu dua hari.

Semoga setiap perjalanan yang kita lakukan menjadi perjalanan yang menyenangkan, kaya akan pengalaman, wawasan dan kebudayaan serta memori baru setiap kejadian selama kita mengalami perjalanan tersebut. Perjalanan yang bisa membuat kita makin wise, bersyukur dan dewasa, keluar dari zona nyaman untuk bisa berinteraksi dengan orang-orang baru.

#Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang. Imam Syafii#

Iklan

Tidur di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng

Jam 00.30 saya sampai di terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta dari Padang menggunakan flight terakhir. Sengaja menghemat budget ketika tiket masih mahal pasca lebaran, sekaligus mau merasakan gimana rasanya nginap dan ngegembel di Bandara, karena saya akan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta menggunakan penerbangan pertama di pagi hari, mau tidak mau saya harus nginap di bandara.

Dari terminal 1B ke terminal 3 untuk keberangkatan nanti paginya saya menggunakan shuttle bus yang biasa lewat depan terminal. Dalam beberapa menit saya sudah sampai di terminal 3. Saya sempat browsing banyak sebelumnya untuk mengetahui kondisi terminal 3 dan dimana saja bisa tidur, dari browsing tersebut saya menyimpulkan tempat terbaik untuk istirahat adalah dilantai 2 atau di musola. Namun hingga tulisan ini selesai saya menghabiskan waktu di salah satu outlet makanan disepanjang terminal 3. Tadinya hanya mau makan nasi goreng dan minum mengisi perut yang mulai keroncongan, tapi melihat beberapa pembeli yang tidak beranjak dan baterai laptop memadai. Saya sempatkan menulis dan blogging.

20150728013322

20150728011741-1

Bagi teman-teman yang mau tidur di terminal 3, mungkin tempat yang terbaik itu adalah didepan gerbang, diseluruh musola di lantai 1 dan lantai 2, dilantai 2 atau depan ATM center. Sebenarnya di terminal 3 relatif aman, tapi keep watching your bag..!!!. Karena banyak juga yang lalu lalang, hindari membawa banyak barang. Lebih bagus hanya membawa satu ransel saja dan digunakan untuk bantal. Jangan lupa untuk ngeset alarm biar ga ketinggalan pesawat, kan ga lucu kalau teman-teman semua mau hemat budget tapi malah ketinggalan pesawat.

20150728020550

Ternyata banyak yang ngemper juga

20150728020646

Lantai 1, terminal 3

Satu per satu pembeli di outlet makanan ini beranjak, nasi goreng yang saya pesan juga sudah habis. Didepan meja saya ada dua anak muda yang kelihatannya punya nasib sama. Saya memberanikan diri untuk berinteraksi dengan mereka. Mungkin ini lah sisi lain dari perjalanan, kita akan terpacu untuk bisa berinteraksi dengan orang baru dan mendapatkan teman baru, ini saya coba lakukan setiap melakukan perjalan. Eh ternyata mereka juga ke Jogja dengan penerbangan dan maskapai yang sama dan paling unik lagi adalah mereka juga menggunakan pesawat yang sama dengan saya dari Padang sebelumnya tadi. Selalu ada cerita dibalik setiap perjalanan.

20150728021346

Lantai 2

20150728021437

20150728022124

Akhirnya dapat tempat nyaman, ada colokan lagi…

Kami berkenalan lalu mulai beranjak ke lantai dua melalui pintu pengunjung di ujung kiri terminal. Disini saya pastikan akan lebih aman karena ketika masuk kita melalui security check, tidak seperti diluar yang masih banyak orang lalu lalang. Ternyata banyak orang yang bernasib sama dengan kami, disepanjang lantai 1 banyak penumpang menginap dan juga di lantai dua. Setelah pindah sana sini mencari colokan akhirnya saya memutuskan untuk tidur di bangku didepan Reflexy untuk sekedar menghabiskan malam menunggu keberangkatan beberapa jam lagi.

Semoga bermanfaat…

“Perjalanan membuat kita semakin berani berinteraksi dan mengenal teman baru “

Merbabu (3142 MDPL) Via Wekas atau via Selo

Gunung Merbabu merupakan gunung yang terletak di wilayah Jawa Tengah, dari beberapa sumber nama Merbabu berasal dari kata “Meru” yang berarti gunung dan “Babu” berarti wanita. Gunung ini berdampingan dengan gunung Merapi, secara administratif terletak di tiga kabupaten yaitu kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali. Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung yang populer bagi pendaki dari kota Yogyakarta, Jawa Tengah serta berbagai daerah di pulau Jawa, keelokan gunung ini memikat banyak orang untuk sampai ke puncaknya, selain itu gunung ini relatif lebih aman karena statusnya bukan gunung aktif meskipun ternyata punya kawah-kawah aktif yang tersebar dibeberapa sisi gunung. Jalur pendakian yang umum di gunakan adalah jalur Wekas dan jalur Selo, selain itu ada beberapa jalur yang biasa di pakai pendaki yaitu jalur Tekelan atau jalur Chuntel. Pada tulisan kali ini saya akan coba review dua jalur tadi yaitu Wekas dan Selo dari segi transportasi, panorama, medan/jalur pendakian, sumber air dan lainnya.

Transportasi

Untuk jalur Selo dari Jogja bisa menggunakan kendaraan pribadi menuju Klaten lalu Boyolali kemudian Selo, jalan akan sedikit memutar, namun ada alternatif lain melalui ketep pass lalu menuju Selo, sedangkan bagi kalian dari Semarang bisa menggunakan transportasi umum dari terminal Terboyo lalu ke solo turun di Boyolali dan melanjutkan perjalanan menggunakan trayek bus lain ke arah Selo. Sedangkan untuk Jalur Wekas dari Jogja dengan menggunakan kendaraan bisa di tempuh sekitar 2 jam menuju Magelang dilanjutkan ke Basecamp Wekas melalui Kopeng melalui jalan lintas Magelang-Salatiga.

Kondisi Medan Pendakian

Jalur Wekas

Wekas merupakan desa terakhir yang menjadi basecamp pendaki yang melalui jalur ini, bisa dikatakan ini salah satu jalur yang terletak di bagian utaranya gunung Merbabu. Jalur Wekas merupakan jalur pendek sehingga jalurnya cadas menanjak dan minim bonus. Waktu tempuh menuju puncak sekitar 7-8 jam melalui pos I, Pos II, Watu Tulis, Pos Helipad, Jembatan Setan, Puncak. Biasanya pendaki akan beristirahat dan mendirikan di tenda di Pos II, selain luas dan datar disini tersedia sumber air yang disalurkan melalui pipa-pipa dari reservoir air yang juga akan dialirkan kebawah menuju desa wekas sebagai sumber air bersih masyarakat, apabila cuaca cerah dari sini kita bisa melihat indahnya pemandangan gagah nya Sindoro dan Sumbing diselimuti awan tipis dari kejauhan. Medan dari pos II menuju puncak cukup variatif dan menantang, lagi-lagi minim bonus, semakin ke atas maka vegetasi akan semakin berkurang. Menuju Puncak Syarif dibutuhkan waktu sekitar 3,5 jam perjalanan dan 4-5 jam menuju puncak tertinggi Kenteng Songo. Sebelum sampai puncak kita akan di suguhi pemandangan yang luar biasa di pos Watu tulis dan pos Helipad. Lanjut beberapa meter melalui tanjakan dan sedikit turunan maka kita akan bertemu dengan jembatan setan, dikatakan demikian karena disisi kiri dan kanan merupakan jurang, jalur hanya berupa jalan setapak seakan-akan seperti jembatan yang mengerikan.

IMG_4244

Sindoro Sumbing dari Pos II Wekas

 

IMG_20140525_103021

Jembatan Setan

 

Jalur Selo

Kecamatan Selo terletak di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Terletak antara gunung Merapi dan Merbabu. Kedua jalur pendakian baik merbabu atau merapi terdapat di daerah ini, jadi bagi kalian yang ingin double summit bisa menggunakan jalur ini. Naik Merapi via Selo lalu Nanjak lagi melalui jalur Selo ke Puncak Kenteng Songo dan turun melalui Wekas.

IMG_20141102_074312

Pemandangan Merapi dari Jalur Selo

 

IMG_20140525_121043

IMG_20140525_123917

Kenteng Songo

Perjalanan melalui jalur Selo akan dimulai dari rumah-rumah penduduk yang menyediakan parkir bagi mereka yang membawa kendaraan pribadi yang juga digunakan sebagai basecamp bagi para pendaki untuk beristirahat dan makan. Dari basecamp menuju Pos I medan pendakian cukup landai melalui area camping luas, hutan rindang jadi cukup sejuk dan menyenangkan. Namun akan banyak ditemui persimpangan jalan yang biasa digunakan penduduk untuk mencari kayu bakar atau kegiatan lainnya, sehingga butuh kejelian untuk mencari jalur yang biasa digunakan pendaki. Setelah Pos I dan Tikungan macan vegetasi akan berbeda dari sebelumnya sedikit terbuka dan beberapa saat berjalan perjalanan akan terasa berat dengan tanjakan-tanjakan terutama menuju pos II dan Batu Tulis. Batu Tulis merupakan dataran yang terbuka ditandai dengan adanya batu besar disana. Disini pendaki sering istirahat dengan disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa, terlihat diberbagai sisi edelweis tubuh subur, disaat terik batang-batangnya bisa dijadikan tempat untuk berlindung dari panasnya sengatan matahari. Pendakian dari basecamp biasa ditempuh 7-8 jam menuju puncak kenteng songo, beberapa saat dari batu tulis medan akan makin terbuka, dengan jalur yang cukup licin pada musim hujan dan sangat berdebu pada musim kemarau. Di depan sana kita akan menemui 2 padang rumput atau sabana lengkap dengan vegetasi edelweis yang banyak. Di Sabana I atau II pendaki biasa digunakan untuk mendirikan tenda lalu istirahat, selanjutnya akan menuju puncak kenteng songo yang bisa ditempuh 1,5-2 jam dengan medan yang cukup terjal, ketika cuaca cerah kalian harus percaya disisi lain kita akan melihat kemegahan gunung Merapi serta pemandangan yang menakjubkan, vegetasi rumput dataran tinggi berwarna keemasan dipadu dengan anggunnya edelweis di tebing-tebing curam. Di Puncak kalian akan menemukan 4 Watu Kenteng (Batu Berlubang), sedangkan namanya sendiri adalah Kenteng Songo, kemana 5 Batu berlobang lainnya. Setiap gunung di Jawa memiliki cerita tersendiri penuh dengan mitos dan kemagisan sendiri-sendiri, termasuk Merbabu, berdasarkan mitos ada 9 Watu Kenteng dipuncak ini, namun yang terlihat secara kasat mata hanya 4 Batu saja. Namun menampikan hal itu semua di puncak kita akan menyaksikan keindahan maha karya yang Kuasa, dengan pemandangan berbagai puncak gunung di Jawa Tengah serta Jawa Timur (Lawu) serta pemandangan samudera awan yang begitu mengagumkan ditambah dengan semburat warna matahari terbit dari ufuk barat jika kalian beruntung.

“Gunung membuat kita merasa sangatlah kecil, bersyukur  adalah hal yang mutlak bagi makhluk yang ber-Tuhan”

Backpack Jogjakarta – Flores (Labuan Bajo, Sail Komodo, Kelimutu, Taman Laut 17 Pulau Riung) #Part 4

Hari ke 10

17 Kepulauan Riung

Nginap Gratis di Rumah Pak Duking

Perjalanan selanjutnya adalah Ende-Riung Kabupaten Ngada, sekitar 5 jam perjalanan menuju barat Flores dan tidak banyak transportasi yang tersedia kesini, perjalanan bisa melalui Bajawa. Lalu dilanjutkan dari Bajawa ke Riung, tapi kami memutuskan untuk langsung menggunakan travel yang disewa ke Riung, sehingga tidak perlu ke Bajawa dulu. Untuk tiba ke sini melalui jalan bukit berliku dan aspal sempit yang naik turun. Terkadang, harus menepis rasa ngeri merayap jalanan di tepi jurang. Akan tetapi, apa yang menunggu di sana nantinya adalah keelokan yang “memukau” sanggup membuai siapapun.

Riung masih tersembunyi dari keramaian. Riung seperti kota kecamatan yang tak mau disentuh keramaian. Nyatanya, memang demikian karena akses yang begitu jauh dan menantang, melewati bukit berlipat-lipat yang juga hampir melebihi kata “memukau”. Ketika sampai di Riung kami belum punya gambaran mau nginap dimana, sebelumnya kami telah menelfon salah satu pemilik kapal, pak Duking beliau merupakan penduduk asli Riung yang akan mengantarkan kami ke 17 kepulauan Riung, dengan kebaikan hatinya kami diperbolehkan untuk menginap dirumah beliau dan kami lah tamu yang pertama kali yang nginap di rumah tersebut, biasa tamu-tamu yang lain hanya diantarkan keliling kepulauan Riung sedangkan untuk penginapan tamu-tamu yang lain dibiarkan untuk mencari penginapan sendiri. Di Riung sendiri terdapat beberapa penginapan yang terletak di sekitar pasar dan kantor camat Riung.

Ketika kami ceritakan bagaimana kami mendapatkan nomor hp beliau dari web-blog, pak Duking merasa bahwa begitu dasyatnya dunia maya yang membuat kami sangat mudah mengakses informasi tentang kepulauan ini dan siapa yang bisa mengantarkan kesana. Atas dasar itu juga lah saya termotivasi membagi pengalaman saya dan akses yang dapat digunakan serta mempromosikan salah satu guide terbaik yang telah menjamu kami dengan sebaik-baiknya selama satu hari dua malam di Riung. Jika kalian mau ke Riung hubungi Nomor ini, 081353863922 (Pak Duking).

Taman Laut 17 Pulau Riung

Berdasarkan informasi dari pak Duking sebenarnya pulau disini berjumlah lebih dari 17 pulau sekitar, pemerintah setempat menamai kepulauan ini dengan 17 kepulauan riung karena peresmian dan pembukaan tempat wisata ini dilakukan pada tanggal 17 Agustus serta menganggap nama ini cukup menarik dan bagus. Taman Laut 17 Pulau Riung merupakan gugusan pulau-pulau yang besar dan kecil terhampar memanjang dari Toro Padang di sebelah barat hingga Pulau Pangsar di sebelah Timur. Keseluruhan dari pulau-pulau tersebut hampir tidak dihuni oleh manusia. Lokasi Taman Laut 17 Pulau Riung berada di Kecamatan Riung yang meliputi lima desa, yaitu: Sambinasi, Nangamese, Benteng Tengah, Tadho dan Lengkosambi.

Nama pulau-pulau yang ada di sini adalah: Pulau Ontoloe (terbesar), Pulau Pau, Pulau Borong, Pulau Dua, Pulau Kolong, Pulau Lainjawa, Pulau Besar, Pulau Halima (Pulau Nani), Pulau Patta, Pulau Rutong, Pulau Meja, Pulau Bampa (Pulau Tampa atau Pulau Tembang), Pulau Tiga (Pulau Panjang), Pulau Tembaga, Pulau Taor, Pulau Sui dan Pulau Wire. Kawasan darat wilayah ini merupakan hutan kering dimana hampir seluruh pesisir pantainya ditumbuhi pohon bakau.

Pagi hari menjelang, kami sudah bersiap-siap menjelajahi spot-spot menarik di kepulauan riung, Di balik kesunyian dermaganya terdapat belasan perahu nelayan Bugis berlabuh, rata-rata penduduk di pesisir Riung ini adalah berasal dari Bugis, suku yang memang terkenal hidup di laut Nusantara ini, termasuk kapten kapal yang mengantarkan kami hari itu, pak Duking beliau merupakan keturunan Bugis. Spot pertama yang kami kunjungi adalah pulau Rutong dan makan siang di pulau Tiga. Di dua tempat ini, ketika snorkeling kami menemukan mawar laut melambai-lambai memesona serta kenaekaragamaan bawah laut berupa karang serta flora cantik yang terdapat di dalamnya.

DSC07708

Pulau Rutong

DCIM101GOPRO

Bawah Laut Riung

DSC07716

Makan Siang di Pulau Tiga

DCIM101GOPRO

Foto by Bang Soeloeh, Taman Bawah Laut Riung

IMG-20150105-WA0008

Mawar Laut

Ada beragam hewan khas yaitu: komodo, biawak timor, ayam hutan, musang, kera, landak, rusa timor, kuskus, buaya, elang, bluwok, bangau putih, burung nuri, tekukur, burung wontong atau burung gosong, kelelawar danbangau hitam. Dari sekian banyak hewan yang bisa di temui di kepulauan ini, kelelawar merupakan salah satu hewan yang mudah ditemui. Setelah makan siang kami akan ke Pulau kelelawar, ombak cukup besar waktu itu, selama perjalanan hempasan ombak begitu keras serasa adrenalin memuncah dan membuat jantung berdetak begitu kencang, bulan januari merupakan bulan-bulan dimana gelombang laut di sekitar lautan Flores tinggi. Di pulau tersebut kami menemukan ribuan kelelawar yang istirahat menggantung di pepohonan bakau.

Hari ke 11

Hari ke 11 merupakan hari dimana kami harus meninggalkan rumah pak duking menuju Bajawa menggunakan bus sudah ditelfon sebelumnya, trayek Riung-Bajawa dilayani satu bus saja jadi kita harus menelfon bus agar mendapatkan tempat duduk, karena benar selama perjalanan bus ini begitu sesak dan hampir setiap sela di isi penumpang dan barang. Walaupun ada beberapa travel juga yang melayani trayek ini dengan harga yang berbeda tentunya. Dari Bajawa kami akan melanjutkan perjalan ke Labuan Bajo lagi.

Hari ke 12

Terdampar di Labuan Bajo

Rencana awal adalah setelah sampai dari Riung melalui Bajawa, istirahat di Labuan Bajo satu malam dan besok menyebrang ke Sappe, namun kondisi gelombang laut yang tinggi membuat kapal penyebrangan berhenti beroperasi beberapa hari. Kami harus menunggu sampai penyebrangan dibuka dan petugas pelabuhan belum bisa memberikan jadwal kapan kapal akan mulai beroperasi lagi.

Hari ke 13-17

Kesokan harinya ternyata penyebrangan dibuka, kapal akan berangkat tengah malam. Tidak kami sia-siakan kesempatan ini untuk bisa sampai ke Sappe dan melanjutkan hari-hari melalui perjalanan darat ke pulau Sumbawa dan Lombok dengan tujuan akhir, Bali. Di Bali istirahat dan jalan-jalan beberapa hari, hingga sampai lagi menginjakkan Kota Yogyakarta yang istimewa ini.

Semoga menginsipirasi….

“Konon bumi ini milik mereka yang mau berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanan, Keep ur Bag is Packed..!!”

Backpack Jogjakarta – Flores (Labuan Bajo, Sail Komodo, Kelimutu, Taman Laut 17 Pulau Riung) #Part 3

Hari 7-9

Kota Ende dan Pengasingan Bung Karno

Puas dengan keindahan Komodo, kesokan harinya kami melanjutkan ke ujung lain Flores, Ende. Transportasi ke Ende biasanya dilayani mini bus sejenis ELF, bus Gunung Mas. Gunung Mas lantaran libur karena kami berangkat di penghujung bulan Desember dan besoknya merupakan tahun baru.  Akhirnya perjalanan 12 jam Labuan Bajo-Ende menggunakan semacam travel dan tentunya ongkosnya lebih mahal dibanding menggunakan Gunung Mas. Sampai di Kota Ende terlihat suasana ramai dan riuh masyarakat menyambut datangnya tahun baru 2015, malam itu kami menghabiskan waktu di penginapan yang cukup nyaman dan murah, Hotel Ikhlas, istirahat dari perjalanan yang cukup panjang dan bersiap besok mememulai explore Ende dan Kelimutu.

Di Ende, kalian bisa berkunjung ke beberapa tempat bersejarah berupa rumah pengasingan Soekarno dan taman dimana Bung Karno menghabiskan waktu berjam-jam disana, konon beliau berenung dibawah pohon kayu dan di sinilah keluarnya inspirasi mengenai lima falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Kami sempat singgah juga dirumah pengasingan Bung Karno, rumah yang terlihat tua dan terawat ini satu kompleks dengan perumahan masyarakat lainnya dan tidak ada perbedaaan berarti kalau kita hanya melihat sekilas saja, yang membedakan adalah di depan rumah ada keterangan yang menjelaskan bahwa ini adalah rumah pengasingan Bung Karno di Kota Ende. Kami kurang beruntung hari ini adalah libur nasional, jadi kami tidak bisa masuk. Di Ende sebenarnya ada beberapa tempat dan pantai-pantai cantik selain wisata sejarah seperti yang saya jelaskan tadi dan yang paling terkenal dan menjadi salah satu motivasi utama kami kesini adalah  danau Kelimutu yang tergambar di uang kertas 5000 rupiah lama, yang cuman hanya pernah saya lihat waktu kecil dulu.

IMG_1096

Taman Renungan Bung Karno

IMG_1101

Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende

Menuju Kelimutu

Untuk menuju ke Kelimutu kami menyewa sepeda motor, perjalanan kali ini akan ditempuh dalam 2 jam ke Moni, Desa terakhir menuju Kelimutu. Jalan menuju Moni cukup bagus, walaupun dibeberapa titik banyak sisa tanah longsor, banyak tikungan tajam pendakian dan turun membuat kami harus ekstra hati-hati ditambah aspal yang masih basah dan diterpa gerimis sepanjang perjalanan. Semakin jauh meninggalkan Ende maka udara akan terasa makin sejuk menuju daerah pegunungan, disisi kiri dan kanan banyak penduduk menjajakan sayuran dan buah-buahan, selain itu beberapa menit sebelum sampai di Moni kita bisa melihat rumah tradisional Wologai dikiri jalan, rumah adat tradisional yang cukup unik walaupun kami tidak sempat untuk singgah dan melihat lebih dekat.

Menuju Moni, Kelimutu

Nginap Gratis di Kantor Taman Nasional Kelimutu

Sampai di Desa Moni kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke pintu masuk Kelimutu, istirahat dan makan siang di warung kecil tepat didepan kantor Taman Nasional Kelimutu. Kami belum ada rencana akan menginap dimana, hujan cukup deras turun hingga sore memaksa kami bertahan di warung tersebut sampai magrib, atas kebaikan mas Dana dan kawan-kawan kami di izinkan menginap gratis di TNK, kami sangat beruntung sekali di izinkan menepati kamar tidur petugas TNK yang kebetulan waktu itu cuti tahun baru. Mas dana merupakan petugas yang belum genap satu tahun di TNK, menjelaskan banyak hal tentang Kelimutu dan beberapa desa-desa adat di sekitar Kelimutu, saya tertarik dengan penjelasannya tentang beberapa spesies dan tumbuhan endemik yang ada di TNK, mengenai perubahan warna danau yang tiba-tiba serta mitos mengenai warna danau tersebut dan juga mengenai Wologai serta pantangan-pantangan yang harus di patuhi selama disana. Mungkin karena umur kami yang tidak terpaut begitu jauh membuat obrolan sore itu terasa hangat dan menyenangkan.

Pintu Masuk Kelimutu

Sunrise di Kelimutu

Pagi-pagi kami berangkat menuju Kelimutu, menggunakan sepeda motor dari pintu masuk sekitar 10 menit kami sudah sampai di parkiran Kelimutu. Lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki, kami harus cepat karena di ufuk barat terlihat matahari sudah muncul, kami cukup beruntung cuaca cerah, tidak seperti beberapa hari yang lalu seperti mas Dana ceritakan, beberapa wisatawan hanya disuguhkan kabut dan cuaca yang tidak bersahabat. Danau ini dikenal dengan danau tiga warna, memiliki warna yang berbeda yaitu merah, biru dan putih. Namun warna-warna  tersebut selalu berubah-ubah seiring perjalanan waktu sesuai aktivitas vulkanik yang terdapat didalamnya. Kelimutu sendiri merupakan gabungan dua kata “keli” yang artinya gunung dan “mutu” yang berarti  mendidih, tercatat bahwa Kelimutu merupakan gunung berapi meletus terakhir pada tahun 1968.  Penduduk setempat percaya warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti atas kekuatan alam yang sangat dasyat, dipercaya juga danau ini merupakan tempat bersemayamnya jiwa-jiwa manusia,  danau atau tiwu Kelimutu dibagi atas tiga bagian, danau yang berwarna merah atau “Tiwu Ata polo” merupakan tempat dimana berkumpul jiwa-jiwa orang yang telah meninggal yang selama hidupunya berbuat jahat, danau berwarna biru “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat dimana berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Sedangkan danau yang berwarna putih “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Sayangnya kami kurang beruntung, saat di sana kedua danau Tiwu Ata polo dan Tiwu Nuwa Muri Koo Fai warna nya tidak seperti yang pernah saya lihat di uang lima ribu rupiah lama, kedua berwarna sama.

DCIM101GOPRO

Tiwu Ata polo dan Tiwu Nuwa Muri Koo Fai

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Narsis Bersama Anak-anak Kelimutu

“Untuk apa kita melakukan perjalanan? Untuk tahu ada kopi dan manusia yg sama hangatnya (Anonim)”

hjn

Backpack Jogjakarta – Flores (Labuan Bajo, Sail Komodo, Kelimutu, Taman Laut 17 Pulau Riung) #Part 2

Hari ke-4

Goa Batu Cermin

Sailing trip komodo kami rencanakan besok, jadi hari ke-2 kami di Labuan Bajo banyak dihabiskan dipenginapan. Namun pada siang hari ada ide untuk berkunjung ke Gua Cermin. Gua ini terletak 4 km dari kota Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores NTT. Gua ini disebut goa cermin karena ketika cahaya masuk melalui lobang menganga diatas gua, menimbulkan pantulan cahaya vertical seperti cermin. Sayangnya ketika kami kesana fenomena ini tidak kami dapatkan, karena fenomena tersebut biasa muncul saat posisi matahari pas yaitu pada saat-saat musim kemarau, sedangkan desember merupakan bulan-bulan musim hujan disekitar NTT. Berdasarkan penjelasan pemandu, ada beberapa arkeolog kebangsaan Belanda melakukan penelitian di goa ini, dari penelitian tersebut kemungkinan goa ini dulu merupakan dasar laut, hal ini diperkuat dengan ada beberapa fosil yang diduga spesies laut, seperti rumput dan ganggang laut serta ada satu fossil menyerupai penyu disalah satu sisi goa.

DSC07027

Goa Batu Cermin

DSC07030

DSC07052

Hari 5-6

Sailing Trip Komodo

Hari Pertama: Loh Buaya, Pulau Padar dan Loh Namu

Untuk sailing trip komodo selama dua hari satu malam kami menyewa perahu pak Abu Bakar, beliau penduduk asli komodo keturunan Bugis. Berangkat dari dermaga wisata Labuan Bajo tujuan kami di hari pertama adalah loh buaya, pulau Padar dan snorkeling di Loh Namu. Di Loh Buaya merupakan salah pintu masuk ke Taman Nasional Komodo, di namakan Loh Buaya karena disini merupakan habitat predator buaya air payau dan juga predator utama Komodo tentunya didaratan pulau ini. Setelah memilih jalur short tracking kami langsung ke arah dapur ternyata sudah menunggu beberapa ekor spesies yang sangat dilindungi disini, komodo Dragons yang dipercayai merupakan salah satu spesies purbakala yang masih tersisa hingga abad ini sangat endemik dan hanya bisa ditemui di kawasan ini. Beberapa komodo terlihat bermalas-malasan dan terkadang melirik mengawasi pergerakan kami. Komodo disini sangat peka terhadap pergerakan terutama ayunan benda apapun, karena mereka menganggap itu adalah makanan. Tentunya kita harus berhati-hati terhadap predator yang satu ini, karena jutaan bakteri yang terdapat di air liurnya siap masuk ke darah dan otot kita apabila sempat diterkam. Cukup babi liar dan kerbau liar jadi santapan mereka yang terlihat dari sisa rangka di pintu retribusi sebelumnya tadi. Oia, di trip kali ini kami berkenalan sama dua teman dari Jakarta, salah satu dari mereka Nikolas kami memanggilnya, menurut saya sangat gigih dan memegang teguh idealisme nya sebagai seorang Backpacker sejati, mutar-mutar seantero Labuan Bajo mencari tebengan Sailing trip komodo, mencari yang paling murah. Alhasil ketemu kami yang memang dapat harga khusus sewa perahu karena satu orang dari kami pernah dan sedang penelitian di Pulau Komodo serta kenal dekat dengan kapten kapalnya. Selanjutnya adalah Pulau Padar, di media sosial foto-foto kecantikan Pulau Padar sangat membius sekali, saya begitu takjub ketika mendarat ke pasir pink lebih pink dari pink beach dengan butiran pasir yang begitu halus. Ketika di pulau Padar kalian jangan sampai lupa satu spot foto di perbukitan paling tinggi di pulau ini, cukup trekking beberapa saat kalian disuguhi pemandangan yang begitu menakjubkan sekali, dari atas tiga teluk membentuk lekukan dengan perpaduan birunya laut, cerahnya langit dan hijaunya perbukitan. Luar biasa…!!! Hari pertama di Komodo ditutup dengan snorkeling di Loh Namu menikmati keindahan bawah laut kepulauan Komodo.

Loh Buaya

 

DSC07190

Pulau Padar

 

Hari Kedua: Loh Liang, Manta Point, Gili Lawa dan Pulau Kanawa

Setelah menginap dirumah Kapten Kapal di pulau komodo. Disuguhkan makanan full ikan segar yang jarang saya dapatkan di Jogja, mencari sinyal di dermaga sambil ngobrol dan menikmati malam di kampung komodo, sailing trip hari kedua kami lanjutkan pagi harinya ke Loh Liang terlebih dahulu. Loh liang merupakan pintu masuk ke Taman Nasional Komodo yang terletak di Pulau Rinca, tahun 2011 kepulauaan komodo di daulat sebagai salah satu New7wonder of nature di dunia, tidak heran karena banyaknya keanekaragamaan hayati baik didarat maupun dilaut yang dihuni berbagai spesies, keindahan alamnya serta hewan endemik utama disini, komodo Dragon kadal terbesar di dunia. Kami beruntung sekali tanpa trekking terlalu jauh, ternyata komodo di alam bebas sangat mudah ditemukan karena waktu kami kesana hewan-hewan penghuni pulau lebih banyak menghabiskan waktunya di tepi pantai dibanding ditengah hutan, hal ini juga mempengaruhi keberadaan hewan predator komodo yang banyak kami temui mencari mangsa atau juga istirahat disekitar pantai. Kali ini kami juga membuntuti beberapa ekor komodo yang berkeliaran bebas dan beberapa memiliki bobot yang cukup besar. Tidak kami sia-siakan kesempatan ini untuk sekedar mengambil foto dan bernarsis ria. Sayang saat di Manta Point kami tidak menemukan apa yang kami cari, Pari Manta. Karena kondisi arus laut yang kuat perjalanan dilanjutkan ke Gili Lawa. Di Gili Lawa seperti di Pulau Padar hari sebelumnya pemandangan akan keliatan menakjubkan jika kita menyisihkan waktu dan tenaga untuk trekking ke perbukitan, memandang betapa indahnya Gili Lawa pada siang terik hari itu. Trip kali ini di tutup dengan sunset di Pulau Kanawa, pulau kecil yang cukup dekat dari Labuan Bajo. Disini ada cottage yang cukup nyaman dan cocok bagi mereka untuk escape dari hiruk pikuk dan kesibukan. Terima kasih Pak Abu Bakar sudah mengantarkan kami melihat indahnya Kepulauan Komodo…

IMG_0467

Loh Liang

IMG_0816

Gili Lawa

IMG_0921

Pulau Kenawa

IMG_0982

Sunset di Kanawa

“Aku Bangga Lahir di Tanah Indah Ini, Indonesia…! Maka, Jelajahilah Setiap Jengkalnya”